Jangan panik, saat BBM naik, Allah sudah mengatur rezeki pada hamba-Nya"
"Tenang saja, Allah tidak akan menimpakan beban lebih daripada yang mampu kita tanggung"
Kita tentu menemui pernyataan serupa diatas, terlepas apapun maksudnya,
kita coba menangkap baik sajalah. Maksudnya mungkin, kenaikan BBM ini
sudah terjadi, yang berlalu ya sudah, yang penting bagaimana kita
menyikapinya
Namun, sebagai seorang Muslim, kita pun khawatir ada
pemahaman yang salah mengenai konsep rezeki yang dicampuradukkan
pemahamannya dengan konsep dakwah, amar ma'ruf dan nahi munkar, khawatir
dengan logika semisal ini ummat jadi berpikir seperti kaum fatalis
jabariyyah atau murji'ah yang menganggap bahwa kemunkaran dan kedzaliman
pun sudah ditakdirkan Allah
Pertama, keyakinan seorang Muslim
terhadap jatah rezeki tentu bagian daripada keimanan, bahwa bila dia
masih hidup, maka Allah pasti akan mencukupinya, pasti masih ada jatah
perutnya. Ini bagian keyakinan yang harus dimiliki oleh seorang Muslim,
karena dalam Al-Qur'an Allah hanya menisbatkan rezeki pada diri-Nya yang
menanggungnya.
Namun berbeda dengan menyikapi kemunkaran, ini
pun bagian daripada kewajiban kaum Muslim yang telah diperintahkan oleh
Allah dan Rasul-Nya, termasuk menasihati pemimpin, ini adalah bagian
daripada perintah agama
"Rasulullah bersabda, "Agama adalah
nasihat", kami bertanya : "Bagi siapa?" Rasulullah menjawab : "bagi
Allah, bagi kitabNya, bagi Rasul-Nya, bagi para pemimpin kaum Muslimin
dan kaum muslimin pada umumnya" (HR Muslim)
"Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim" (HR Abu Dawud)
Artinya saat kita menasihati penguasa bahwa kenaikan BBM ini adalah
kedzaliman dan bertentangan dengan cara Islam mengatur sumberdaya alam,
dan menyusahkan ummat, bukan berarti kita tidak beriman dengan rezeki
Allah, namun melaksakan sebagaian kewajiban dari Allah dan Rasulullah,
yaitu menasihati penguasa.
Maka dalam konteks kenaikan BBM lalu
meminta agar rakyat beriman pada takdir Allah, agaknya kurang pas.
Karena hal ini akan diterima sebagai "menerima kedzaliman" bukan
"menerima takdir", karena yang harus dilakukan tatkala melihat
kemunkaran hanya 3 hal: 1) mengubah dengan tangan (kekuasaan), 2)
menasihati dengan lisan, atau 3) mengingkari dengan hati.
Inilah jalan para salafus salih saat menghadapi kemunkaran
Maka mendiamkan kemunkaran padahal kita tahu dan mampu untuk
menyampaikan dakwah adalah perbuatan yang tidak dicontohkan para sahabat
dan ulama salaf.
Hanya saja, memang penting sekali bagi para
penyampai ayat Allah dan peringatan ini untuk berucap santun dan bijak,
menasihati dengan penuh kelembutan dan kasih sayang bukan malah mencela,
melaknat, berkata kotor dan menghina yang justru menjauhkan para
pemimpin ini dari mendengar nasihat
"Pergilah kamu berdua kepada
Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu
berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia
ingat atau takut" (QS 20: 43-44)
"Qaulan layyina" menurut Ibnu
Katsir adalah "perkataan yang lemah lembut, santun, mudah dimengerti,
dan bersahabat, agar lebih mudah meresap ke dalam jiwa serta lebih tepat
dan pas"
Kita berdakwah bukan karena tidak beriman pada takdir,
bukan pula memprovokasi, tapi inilah kewajiban menasihati penguasa, yang
Allah wajibkan saat kita melihat kemunkaran, termasuk kemunkaran yang
jelas saat BBM naik seperti ini.
Kita berdakwah bukan tersebab benci tapi karena peduli, bukan karena berang namun karena kasih sayang
Maka kita pun menyampaikan kepada penguasa, nasihat Nabi saw, dalam doanya,
doa Nabi saw, "Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku ini,
yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja
yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia" (HR Muslim)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar