Kita tahu bahwa riya’ adalah salah satu perusak amal dan tergolong
dalam kesyirikan. Karena memamerkan ibadah atau melakukan riya’s, amalan
seseorang jadi sia-sia. Namun ternyata ada bedanya antara riya’ seorang
muslim dan orang munafik.
Berikut keterangan dari Syaikh Sholeh Alu Syaikh mengenai tingkatan riya’.
Pertama, riya’ orang munafik, yaitu menampakkan Islam dan
menyembunyikan kekafiran. Ia menampakkan keislaman, Islamnya hanya
kepura-puraan di hadapan manusia. Ini adalah bentuk munafik dalam tauhid
dan menghilangkan iman secara total. Perbuatan ini termasuk dalam kufur
akbar (kafir besar). Allah menyifati orang munafik seperti ini,
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan
membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan
manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (QS.
An Nisa': 142). Yang dimaksud riya’ di sini adalah riya’ akbar (riya’
besar), yaitu menampakkan keislaman, menyembunyikan kekafiran dalam
batin.
Kedua, riya’ yang dilakukan oleh seorang muslim. Riya’ di sini
dilakukan dengan maksud menampakkan amalan di hadapan orang lain. Ini
termasuk syirik khofi, yaitu syirik yang tersembunyi (tidak nampak).
Syirik ini meniadakan kesempurnaan tauhid. Allah Ta’ala mengatakan
mengenai syirik,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni segala dosa yang di bawah syirik, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. ” (QS. An Nisa': 48). Ayat “sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa syirik“, termasuk juga di dalamnya syirik khofi (syirik
yang tersembunyi), begitu pula syirik ashgor. Artinya, jika tidak
bertaubat dari riya’ hingga mati, syirik tersebut akan masuk dalam
timbangan kejelekan.
Penjelasan di atas menunjukkan akan bahayanya mencari pujian dalam
beramal. Namun demikianlah tidak sedikit yang senang akan pujian saat
beribadah. Padahal riya’ yang samar dapat membahayakan ibadah seorang
muslim. Dan perlu para pembaca ketahui bahwa riya’ ternyata lebih
berbahaya dari musibah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Karena
Dajjal bisa dilihat dan nyata. Namun amalan yang riya’, tak ada satu pun
yang tahu pelakunya itu riya’ karena riya’ adalah di hati dan
tersembunyi. Abu Sa’id Al Khudri pernah berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami
dan kami sedang mengingatkan akan (bahaya) Al Masih Ad Dajjal. Lantas
beliau bersabda, “Maukah kukabarkan pada kalian apa yang lebih samar
bagi kalian menurutku dibanding dari fitnah Al Masih Ad Dajjal?” “Iya”,
para sahabat berujar demikian kata Abu Sa’id Al Khudri. Beliau pun
bersabda, “Syirik khofi (syirik yang samar) di mana seseorang shalat
lalu ia perbagus shalatnya agar dilihat orang lain.” (HR. Ibnu Majah no.
4204, hasan).
Muhammad Abduh Tuasikal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar