Selasa, 10 Februari 2015

Majelis Ilmu adalah Hiburan Terbaik

Di saat mendengar kata hiburan, apa yang terlintas di kepala kita? Pergi ke tempat wisata, bermain game, menonton film, mendengarkan musik, dan hiburan lainnya. Di saat itu juga kita langsung bertanya-tanya dalam hati, di mana tempat wisata yang paling indah yang belum kita kunjungi? Apa game bagus yang belum kita mainkan? Apa film yang sedang tren yang belum kita tonton? Apa lagu favorit yang belum kita dengarkan? Benar begitu?
Ketika kita disibukkan dengan hiburan kita masing-masing, berwisata, bermain game, menonton film, mendengarkan musik, dan hiburan lainnya, bahkan tak jarang terjerumus ke hiburan negatif: diskotek, seks bebas, miras, narkoba, dengan dalih menghilangkan kejenuhan, ingatlah bahwa sebaik-baik hiburan adalah majelis ilmu.
Kesenangan hiburan duniawi akan sirna seiring berakhirnya hiburan tersebut. Ketika bermain game, atau menonton film, mungkin di saat itu kita akan merasa senang, jenuh hilang, masalah terlupakan. Namun, setelah selesai apa yang terjadi? Kesenangan hilang, jenuh datang, dan masalah terpikir kembali. Begitu juga dengan hiburan lainnya.
Berbeda halnya dengan majelis ilmu. Di saat hadir, kita bertemu dengan saudara-saudara kita, berbagi senyum dan tawa, berbagi masalah dan solusi. Di saat hadir, kita juga mendapatkan kesenangan, bahkan ketenangan. Kita mendapatkan ilmu dan pencerahan. Apakah setelah majelis ilmu selesai, ketenangan pada diri kita juga akan selesai? Tentu tidak, pasti banyak hal yang membekas di hati dan kepala kita. Solusi dari saudara, ilmu baru yang kita dapat, dan ketenangan itu sendiri. Dari situlah kita dapat mencari jalan keluar dari masalah yang sedang kita hadapi. Bukankah kunci dari setiap permasalahan dan sumber dari setiap solusi adalah ketenangan?
Seorang ulama salaf, Hasan Al Bashri rahimahullah pernah berkata, “Mempelajari satu bab ilmu (agama) lebih baik dari dunia dan seisinya.” Lalu, masih adakah hiburan duniawi yang lebih baik daripada majelis ilmu dari seorang yang mengaku dirinya muslim? Lantas mengapa masih enggan sekali kita menghadiri majelis ilmu (majelis zikir) dan sangat bersemangat dalam urusan (kesenangan) duniawi di saat diri merasa jenuh dengan masalah-masalah yang ada.
Tidakkah kita ingat, bukankah hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang? Ya, ketenangan yang hakiki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar